Manusia oleh Badan Pusat Statistik (2016) yang melakukan

Manusia pada dasarnya adalah individu dan makhluk
sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Individu membutuhkan orang lain untuk
memenuhi kebutuhannya berinteraksi. Tahap perkembangan psikososial Erikson, intimacy versus isolation, merupakan
isu utama bagi individu yang ada pada masa perkembangan dewasa awal. Menurut
Erikson, individu pada perkembangan dewasa awal yang telah mengembangkan
pemahaman yang kuat mengenai identitas dirinya (sense of self) pada masa remaja, telah siap meleburkan identitas
mereka dengan individu lain. Individu pada masa ini dicirikan dengan memiliki
beberapa tugas perkembangan yang mencakup mendapatkan pekerjaan, mengembangkan
hubungan yang intim, memilih teman hidup, belajar hidup bersama suami atau
istri, membentuk sebuah keluarga, membesarkan anak-anak dan mengelola rumah
tangga (Santrock, 2012).

 

Salah satu hubungan terpenting antara pria dan wanita
adalah pernikahan. Ini melibatkan komitmen emosional dan hukum yang cukup
penting dalam kehidupan orang dewasa. Tidak ada keraguan bahwa pilihan pasangan
pernikahan adalah salah satu keputusan terpenting yang dibuat seseorang dalam
hidupnya. Pernikahan merupakan bentuk hubungan antara laki-laki dewasa dan
perempuan dewasa yang diterima serta diakui secara universal. Diketahui jumlah
data yang tercatat oleh Badan Pusat Statistik (2016)  yang melakukan pernikahan pada tahun 2014
sebanyak 2.110.776 orang dan pada tahun 2015 sebanyak 1.958.394 orang. Adapun pernikahan
yang dianggap sah menurut hukum Indonesia dalam Undang-Undang No. 1 Pasal 7
Tahun 1974 Tentang Perkawinan “Perkawinan
hanya diijinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun
dan pihak wanita sudah mencapai um ur 16 (enam belas) tahun”. Undang-Undang
tersebut turut menjelaskan bahwa pernikahan merupakan ikatan suami istri, lahir
batin, antara pria dan wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk
keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha
Esa.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

 

Seseorang menikah memiliki berbagai alasan, seperti;
cinta, kebahagiaan, persahabatan, dan keinginan untuk memiliki anak,
ketertarikan fisik, atau keinginan untuk melepaskan diri dari situasi yang
tidak menyenangkan. Pernikahan adalah komitmen dengan cinta dan tanggung jawab
untuk perdamaian, kebahagiaan dan pengembangan hubungan keluarga yang kuat
(Kumari, 2014).  Selain itu jika dilihat
dari sisi aturan agama memandang pernikahan sebagai suatu hal yang suci,
sakral, dan merukan kebiasaan yang baik dan mulia. Pernikahan sebagai dinding
yang kuat sebagai pemelihara manusia dari dosa-dosa yang disebabkan nafsu
seksual (Ulfiah, 2016). Pernikahan yang ideal adalah yang dianggap dapat
memberikan intimasi (kedekatan), pertemanan, pemenuhan kebutuhan seksual,
kebersamaan, dan perkembangan emosional. Beberapa perspektif menyatakan bahwa pernikahan
memiliki banyak kemakmuran, termasuk memperbaiki kesejahteraan ekonomi
individu, kesehatan fisik dan mental, dan kesejahteraan anak (Shabbir dkk,
2015).

 

Pernikahan tidak hanya sebatas janji yang diikrarkan
dan status sosial. Menikah dengan pasangan berarti  melakukan penyesuaian dengan kehidupan baru.
Pentingnya permasalah penyesuaian pernikahan di masa awal pernikahan juga telah
dikemukakan oleh salah satu tokoh psikologi perkembangan, yaitu Erikson.
Erikson (dalam Pusparini, 2012) menjelaskan bahwa pernikahan merupakan salah
satu cara logis untuk meraih intimacy
pada masa dewasa muda (usia 20-40 tahun). Dalam rentang usia tersebut, manusia
akan mengalami banyak transisi atau perubahan. Meningkatkan keintiman dan
membangun relasi dengan orang lain secara baik ditandai oleh adanya kematangan
emosional dan sosial. Apabila perubahan-perubahan tersebut tidak disertai
dengan kematangan emosional yang baik maka akan menimbulkan banyak masalah
dalam kehidupan rumah tangga. Untuk menghindari banyaknya konflik yang terjadi
dalam rumah tangga perlunya penyesuaian antara suami dan istri dalam
pernikahan.

 

Menurut Kumari (2014) ada daftar delapan area
penyesuaian pernikahan, yang didefinisikan oleh psikolog, seperti konsep
pasangan ideal, pemenuhan kebutuhan, kesamaan latar belakang, kepentingan
bersama, persamaan nilai, perubahan pola hidup, penyesuaian seksual,
penyesuaian keuangan dan hubungan hukum. Salah satu masalah utama dalam
penyesuaian pernikahan yaitu keuangan. Situasi keuangan bisa menjadi ancaman
bagi penyesuaian pernikahan individu. Keadaan seperti ini membuat seorang istri
mengambil keputusan untuk berbagi beban dengan suami dalam memenuhi kebutuhan
sehari-hari. Selain keadaan tersebut, saat ini pria dan wanita memiliki
kesempatan yang sama untuk berkarir. Pemikiran tentang wanita yang hanya
bertanggung jawab mengurus pekerjaan rumah sudah mulai dipertimbangkan. Wanita
sudah banyak berperan aktif dalam bidang kehidupan sosial, ekonomi, dan
politik. Kesuksesan dalam berkarir tidak terlepas oleh perjuangan seorang
wanita menghadapi tantangan dan dilema, dimana dirinya sebagai istri harus
dapat menyeimbangkan pekerjaan dengan keutuhan keluarga. Apabila keduanya tidak
seimbang maka tidak dapat dikatakan sebagai wanita yang sukses. Selain itu
ketika mereka merasa menjadi ibu rumah tangga akan membatasi gerak mereka yang
akan menimbulkan frustasi. Sebagai seorang wanita yang memilih pekerjaan
sebagai jalan untuk mengaktualisasikan diri dan disisi lain sebagai istri yang
berkewajiban untuk mengurus rumah tangga, agar memperoleh kepuasan mereka dituntut
untuk lebih dapat menyeimbangkan antara keduanya dan dapat menyesuaikan diri
dalam pernikahan dengan baik.

 

Hurlock (dalam Christina & Matulessy, 2016)
mendefinisikan penyesuaian pernikahan sebagai proses adaptasi antara suami dan
istri, dimana suami dan istri dapat mencegah terjadinya konflik dan
menyelesaikan konflik dengan baik melalui proses penyesuaian diri. Pada periode
awal pernikahan, penyesuaian pernikahan merupakan proses yang harus dihadapi
dan diselesaikan oleh pasangan suami-istri. Masalah penyesuaian dengan keluarga
pasangan juga merupakan hal yang penting dan akan menjadi serius pada periode
awal pernikahan. Memperoleh hubungan yang baik dalam pernikahan tidaklah mudah
seperti apa yang diharapkan oleh pasangan suami istri. Banyak pasangan yang
merasakan kegagalan ketika menjalani kehidupan pernikahan seiring dengan
munculnya perbedaan, perubahan dan ketidaksesuaian di antara pasangan suami
istri. Kegagalan tersebut dapat menyebabkan terjadinya permasalahan dalam
pernikahan. Kegagalan pasangan dalam memecahkan permasalahan secara efektif
dapat memicu konflik yang berkepanjangan dan dapat menyebabkan perceraian. Ulfiah
(2016) mengungkapkan relasi suami istri memberikan landasan dan menentukan
warna bagi keseluruhan relasi dalam keluarga. Banyak keluarga yang berantakan
akibat kegagalan dalam relasi suami istri. Kunci dari kelanggengan pernikahan
adalah keberhasilan melakukan penyesuaian di antara pasangan.

 

Indrawati & Fauziah (2012) menyatakan bahwa pernikahan
yang bahagia tentunya menjadi tujuan dari setiap orang yang membentuk keluarga,
tetapi kadang harapan tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Keinginan akan
terciptanya kebahagiaan dan kemesraan dalam perkawinan dapat sirna di tahun
pertama dan kedua perkawinan, akibat adanya ketidaksesuaian antara pasangan,
perubahan kasih sayang, dan juga keyakinan yang dapat menimbulkan pertentangan.
Wilis (dalam Nurdjanah, 2016) menyebutkan bahwa selain pada fase pendalaman
anatar suami istri, faktor terbesar dalam keretakan rumah tangga ada dua yakni
faktor internal seperti kesulitan keuangan, tafsiran dan perlakuan terhadap
perilaku marah-marah serta sikap egoistis dan kurang demokratis dan faktor
eksternal seperti campur tangan pihak ketiga serta  pergaulan negatif. Hal-hal yang menimbulkan
pertengkaran dapat memicu timbulnya stres yang membahayakan kesehatan fisik dan
mental. Ketika seorang istri kurang mampu menyesuaikan diri dengan suami serta
keluarga lainnya ataupun sebaliknya, maka akan rentan mengalami pertengkaran
karena kesalahpahaman ataupun ketidakmampuan untuk menyesuaikan diri dengan
budaya dalam keluarga tersebut sehingga ketika seorang istri tidak mampu
mengatasinya, kemungkinan besar akan mengakibatkan stres. Seriusnya akibat yang
ditimbulkan dari pernikahan yang buruk ini menyebabkan banyak ahli tertarik
untuk meneliti masalah perkawinan.

 

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Thompson &
Walker (dalam Karlina dkk, 2013), ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi
penyesuaian salah satunya adalah jenis kelamin, dimana jenis kelamin dapat
mendasari terjadinya konflik dan kegagalan dalam rumah tangga karena adanya
perbedaan harapan antara suami dan istri. Sedangkan menurut Haring dkk (dalam
Karlina dkk, 2013) usia dan jenis kelamin ditemukan mempengaruhi kesejahteraan
pernihakan. Selain jenis kelamin dan usia pasangan suami istri, terdapat faktor
lain yang mempengaruhi penyesuaian hubungan pernikahan yaitu kelekatan.

 

Attachment
atau
kelekatan adalah ikatan emosional yang kuat antara dua individu (Santrock,
2012). Sedangkan kelekatan dalam pernikahan adalah bentuk dari kelekatan pada
orang dewasa. Menurut Hazan & Shaver (dalam Karlina dkk, 2013) mengatakan
bahwa hubungan romantis orang dewasa dapat dilihat sebagai sebuah ikatan
afektif yang sebanding dengan yang terlihat antara bayi dengan pengasuh
utamanya (cenderung mengarah kepada ibu). Banse (dalam Afni dkk, 2016)
mengemukakan hasil studi pada 333 pasangan di kota Berlin, Jerman menunjukkan
bahwa pola kelekatan aman terkait secara positif dengan kepuasan pernikahan.
Studi ini menunjukkan bahwa pola kelekatan dari individu memainkan peran
penting dalam penyesuaian pernikahan.

 

Bagaimana seseorang dibesarkan sangat mempengaruhi kehidupan
dewasanya. Pola pengasuhan yang ditanamkan orang tua dan membentuk ikatan emosi
antara anak dan orang tua akan menjadi bekal bagaimana individu menghadapi
lingkungan. Seorang wanita ketika dirinya masih dalam tahap perkembangan awal,
tentunya memiliki kelekatan kepada figur yang dianggap penting bagi dirinya,
misalnya seorang ibu. Setiap individu memiliki gaya kelekatan yang berbeda-beda
sesuai dengan pengalaman individu dengan figur penting tersebut. Ketika
beranjak dewasa gaya kelekatan masih melekat walaupun nantinya akan berkurang
dikarenakan faktor lainnya. Setelah berpisah dengan figur sebelumnya, maka
seorang wanita pada masa dewasa awal mulai mencari pasangan hidup dan akhirnya
menikah. Pasangan hidup tersebut secara tidak langsung menggantikan figur
sebelumnya dan gaya kelekatan yang digunakan sama dengan figur sebelumnya.

 

Pada masa dewasa awal, untuk memenuhi tugas
perkembangannya dimana mereka membangun relasi dengan orang lain secara lebih
intim. Hubungan yang dibangun melibatkan emosi dan perilaku yang tidak terlepas
dari gaya kelekatan yang dimiliki yang didapatkan dari pengalaman masalalu. Menurut
Hazan & Shaver (dalam Karlina dkk, 2013) hubungan emosi antar dua orang
yang ditandai dengan keinginan untuk bersama dan menyayangi satu sama lain
disebut sebagai adult attachment. Dalam
sebuah pernikahan Adult attachment style yaitu
tingkat keamanan dalam hubungan interperonal yang mempengaruhi istri dalam
berpikir, merasa dan bertindak terhadap suaminya.

 

Hazan & Shaver mengemukakan pola kelekatan yang
terbagi menjadi tiga dimensi, yaitu gaya kelekatan yang aman, gaya kelekatan
yang menghindar, dan gaya kelekatan yang cemas. Gaya kelekatan yang aman
memiliki sudut pandang positif terhadap relasi, mudah dekat dengan orang lain,
dan tidak khawatir serta stres berlebihan tentang hubungang dengan pasangan.
Individu cenderung menikmati seksualitas dalam konteks relasi yang berkomitmen
dan lebih jarang melakukan seks dalam hubungan singkat. Gaya kelekatan yang
menghindar yaitu individu merasa ragu-ragu terlibat dalam relasi romantis dan
sering mengambil jarak dari pasangan karena tidak nyaman dengan ketergantungan.
Sedangkan gaya kelekatan yang cemas menggambarkan individu yang menuntut
kedekatan, kurang bisa mempercayai orang lain atau pasangan, lebih emosional,
pencemburu, serta posesif terhadap pasangan (Santrock, 2012).

 

Hazan & Shaver mengungkapkan bahwa orang dewasa
yang menunjukkan kelekatan aman dalam relasi romantisnya cenderung memiliki
kelekatan yang aman dengan orangtua dimasa kanak-kanak (Santrock, 2012). Dalam
studi longitudinal diketahui bahwa bayi yang memiliki kelekatan aman pada saat
berusia 1 tahun, 20 tahun kemudian ketika dewasa ia memiliki kelekatan yang aman
dalam relasi romantisnya (Steele dkk dalam Santrock, 2012). Beberapa penelitian
tersebut mendukung penelitian ini, dimana adanya pengaruh gaya kelekatan pada
masa bayi akan terbawa sampai pernikahan, yang pada akhirnya akan mempengaruhi
bagaimana seorang istri menyesuaikan diri dengan suami sebagai figur penting.

 

Penelitian terdahulu mengenai hubungan antara attachment style dan penyesuaian
pernikahan dimana gaya kelekatan secure
memiliki korelasi positif sedangkan dan gaya kelekatan avoidant memiliki korelasi negatif terhadap penyesuaian pernikahan.
Selain berpengaruh pada penyesuaian pernikahan, gaya kelekatan juga
mempengaruhi pola komunikasi pada pasangan, intimasi pernikahan dan kepuasan
pernikahan (Kokolvand & Hasanvand, 2015) ; Aminpour dkk, 2016). Kemudian Adult Attachment merupakan prediktor
utama pada keintiman pernikahan dimana gaya kelekatan aman memiliki korelasi
positif dengan keintiman pernikahan sedangkan gaya kelekatan menghindar dan
ambivalen memiliki korelasi negatif terhadap keintiman pernikahan (Dadfarnia
dkk, 2015). Selain itu, yaya kelekatan cemas, gaya kelekatan mengindar, depresi
dan stabilitas emosional memiliki peran negatif dalam kepuasan pernikahan,
sedangkan individu yang memiliki gaya kelekatan aman memiliki hubungan yang
melibatkan kebebasan, kepercayaan, komitmen dan kepuasan (Bano dkk, 2013).

 

Dari beberapa
penelitian terdahulu yang pernah dilakukan kepada pasangan suami istri dimana
gaya kelekatan mempengaruhi penyesuaian pernikahan dan peneliti tertarik untuk
meneliti lebih lanjut dengan kriteria subjek wanita dewasa awal dengan usia
pernikahan 0-5 tahun, bekerja dan, belum atau sudah memiliki anak. Berdasarkan
pemaparan diatas, rumusan masalah yang diambil yaitu apakah adult attachment style berhubungan dengan penyesuaian pernikahan.

 

Tujuan dari dilakukannya penelitian ini adalah untuk
melihat hubungan antara adult attachment
style dengan penyesuaian pernikahan. Adapun manfaat dari penelitian ini
secara teoritis yaitu dapat dijadikan referensi pada penelitian selanjutnya
tentang hubungan adult attachment style terhadap
penyesuaian pernikahan maupun pada variabel lainnya, selain itu dapat menambah
kajian dalam bidang psikologi perkembangan dan psikologi sosial. Sedangkan
manfaat praktisi yaitu memberikan sumbangan informasi kepada istri mengenai mengenai
pola adult attachment dan hubungannya
dengan penyesuaian pernikahan dan bisa digunakan untuk menjadi bahan evaluasi
diri. Selain itu, dapat digunakan oleh praktisi/psikolog sebagai bahan materi
dalam seminar san sebagainya.

x

Hi!
I'm James!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out